Kamis, 12 Oktober 2017

Kepemimpinan Pendidikan




Kepemimpinan Pendidikan



1.      Pengertian Kepemimpinan Pendidikan
Pemimpin adalah orang yang tugasnya memimpin, sedang kepemimpinan adalah bakat dan atau sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Maka kepemimpinan adalah kekuasaan untuk memengaruhi seseorang, baik dalam mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu.
Menurut beberapa ahli:
a.       Miftah Thoha, menjelaskan kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia, baik perseorangan maupun kelompok.
b.      Hadari, memandang kepemimpinan dari dua konteks, struktural dan nonstruktural. Dalam konteks struktural kepemimpinan  diartika sebagai proses pemberian motivasi agar orang-orang yang dipimpin melakukan kegiatan dan pekerjaan sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Adapun dalam konteks nonstruktural kepemimpinan dapat diartikan sebgai proses memengaruhi pikiran, perasaan, tingkah laku, dan mengerahkan semua fasilitas untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
c.       Tanembaum dan Massarik menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses atau fungsi sebagai suatu peran yang memerintah.
d.       Harold Kontz menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pengaruh, seni atau proses memengaruhi orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok dengan kemauan dan antusias.[1]
Dari beberapa definisi di atas, dapat di simpulkan yang di maksud dengan kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.[2]
Jadi, kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan seseorang untuk menggerakkan orang lain baik secara berkelompok atau perorangan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Juga dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain dalam melakukan suatu pekerjaan.[3]

2.      Prinsip-Prinsip  Kepemimpinan Pendidikan
Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto dalam bukunya Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan, menyatakan prinsip-prinsip kepemimpinan dalam pendidikan adalah:
a.       Prinsip partisipasi. Pemimpin harus berusaha membangkitkan dan memupuk kesadaran pada setiap anggotanya agar mereka ikut serta bertanggung jawab dan ikut dalam memikirkan untuk memecahkan masalah yang menyangkut perencanaan pendidikan.
b.      Prinsip kooperasi. Partisipasi harus ditingkatkan menjadi kerjasama yang dinamis. Setiap anggota di samping bertangggung jawab terhadap tugasnya masing-masing juga harus merasa berkepentingan pada masalah yang menyangkut suksesnya pekerjaan anggota-anggota lain.
c.       Prinsip hubungan kemanusian yang akrab. Dalam kepemimpinan yang demokratis perlu diciptakan suasana persahabatan dan persaudaraan yang akrab serta perlu dipupuk sikap saling hormat-menghormati di antara seluruh anggota dari lembaga kerja tersebut.
d.      Prinsip pendelegasian dan pemencaran kekuasaan dan tanggung jawab. Hal ini diperlukan mengingat keterbatasan kemampuan pemimpin agar proses kerja secara keseluruhan dapat berjalan lancar, efektif, dan efesien. Pemimpin harus yakin dan percaya bahwa setiap anggotanya mempunyai kemampuan dan potensi yang dapat bermanfaat bagi lembaga kerjanya.
e.       Prinsip fleksibelitas oragnisasi dan tata kerja. Struktur organisasi dan hubungan serta tata kerja jangan menimbulkan suasana yang kaku, sehingga membawa akibat negatif yang dapat menghambat perencanaan dan pelaksanaan program. Tujuannya untuk mengatur kegiatan dan hubungan-hubungan kerja yang harmonis, efektif, dan efisien.
f.       Prinsip kreativitas. Pemimpin harus pandai menciptakan suasana yang dapat mendorong usaha kreatif dari personal yang terlibat secara keseluruhan, karena pertumbuhan dan perkembangan suatu organisasi sangat tergantung pada kreativitas para anggota staf dan pemimpin organisasi tersebut.[4]

3.      Sifat dan Azas Kepemimpinan Pendidikan

Menurut Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi dalam buku Pedoman Penyelengaraan Adm Pendidikan di Sekolah, sifat-sifat yang diperlukan dalam kepemimpinan pendidikan adalah:

a.    Memiliki kematangan spiritual, mental, sosial dan fisik.

b.  Menunjukkan pribadi keteladanan.
c.    Memiliki kewibawaan dan keunggulan.
d.   Memiliki keuletan dan kerajinan.
e.    Memiliki kejujuran.
f.     Memiliki motivasi yang kuat untuk memimpin.
g.    Memiliki disiplin yang kuat.
h.    Memiliki identitas dan integrasi diri.
i.      Memiliki rasa tanggung jawab yang penuh.
j.      Berjiwa merakyat.
k.    Memiliki kemampuan teknis memimpin.
Azas kepemimpinan pendidikan yang dikemukakan oleh K.H. Dewantoro sebagaimana dikutip oleh Abd. Gaffar Mutiara adalah:
a.       Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b.      Ing ngarso sung tulodo (memberi contoh/teladan kepada bawahan).
c.       Ing madya mangun karso (menggugah semangat kerja bawahan).
d.      Tut wuri handayani (mempengaruhi/mendorong dari belakang).
e.       Waspada (waspada mengoreksi dan berani memberi dikoreksi).
f.       Prasaja (tingkah laku sederhana/wajar).
g.      Gemi nestiti (sadar dan mampu membatasi pengeluaran untuk yang benar-benar diperlukan).
h.      Satya (sikap loyalitas yang tinggi, ke atas, ke bawah, dan ke kanan-kiri).
i.        Belaka, (kemauan, keberanian bertanggung jawab).
j.        Legawa (kemauan, kerelaan, dan keikhlasan menyerahkan tanggung jawab/tugas kepada generasi muda.[5]

4.      Tipe atau Gaya Kepemimpinan
Adapun gaya-gaya kepemimpinan yang pokok , atau dapat juga disebut ekstrem, ada 3, yaitu :[6]
a.         Otokratis
Dalam kepemimpinan yang otokratis, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota-anggota kelompoknya. Baginya, memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Kekuasaan pemimpin yang otokratis hanya dibatasi oleh undang-undang. Penafsirannya sebagai pemimpin tidak lain adalah menunjukkan dan memberi perintah. Kewajiban bawahan atau anggota-anggotanya hanyalah mengikuti dan menjalankan, tidak boleh membantah atau mengajukan saran.
b.        Laissez Faire
Dalam tipe kepemimpinan ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan pimpinan. Tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya. Pemimpin yang termasuk tipe ini sama sekali tidak memberrikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan anggota-anggotanya. Pembagian tugas dan kerjasama diserahkan kepada anggota-anggota kelompok, tanpa petunjuk atau saran-saran dari pimpinan.
c.          Demokratis
Pemimpin yang bertipe demokratis menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai diktator, melainkan sebagai pemimpin di tengah-tengah anggota kelompoknya. Hubungan dengan anggota-anggota kelompok bukan sebagai majikan terhadap buruhnya, melainkan sebagai saudara tua diantara teman-teman sekerjanya, atau sebagai kakak terhadap saudara-saudaranya. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulasi anggota-anggotanya agar bekerja secara kooperatif untuk mencapai tujuan bersama. Dalam tindakan dan usaha-usahanya, ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya, dan mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya.




[1] http://suhendraaw.blogspot.com. Diunduh pada 9 Mei 2016

[2] https://emperordeva.wordpress.com. Diunduh pada 9 Mei 2016
[3] Drs. Muhammad Yuseran, M.Pd. Administrasi Dan Supervisi Pendidikan(Banjarmasin : IAIN Antasari Banjarmasin, 2010). hal. 35
[4] Drs. Muhammad Yuseran, M.Pd. Administrasi Dan Supervisi Pendidikan... hal. 35-36
[5] Drs. Muhammad Yuseran, M.Pd. Administrasi Dan Supervisi Pendidikan... hal. 36-37
[6] DRS. M. Ngalim Purwanto.Administrasi dan Supervisi Pendidikan(Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2012).Cet.XXI. hal. 48

0 komentar:

Posting Komentar